Welcome to my blog

Selamat datang di blog yang fakir tulisan ini hehe, semoga informasi yg saya sajikan bermanfaat bagi anda walau seadanya. Semoga juga bisa memuaskan anda yang kepo sama saya #keGeEran haha.

My Family

Keluarga kedua di Jakarta

Sunday, July 14, 2019

Malam Lailatul Qadar

Awalnya tahun lalu lebih tepatnya Ramadhan 1439 H, saya penasaran dengan kegiatan di mesjid kantor yang sudah disiapkan makan sahur untuk yang melakukan i'tikaf. Kegiatan tsb dilakukan setiap tahun pada 10 malam terakhir Ramadhan. Kemudian, ada apa dengan i'tikaf?

Karena penasaran, waktu mudik saya coba pergi ke Mesjid setiap malamnya di hari yang tersisa, dan memang ada beberapa orang yang melakukan i'tikaf di Mesjid dekat rumah, namun masih tergolong sangat sepi jika dibanding i'tikaf di Mesjid Kota Besar. I'tikaf ini dilakukan untuk mencari malam Lailatul Qadar yang dikatakan merupakan malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Teringat dari kecil saya selalu mendengar cerita malam spesial ini, dimana malam ini menurut saya adalah malam mitos dimana saya sendiri tidak pernah mengalami sebelumnya, dan saya juga tidak pernah bertemu orang-orang yang membagikan secara langsung pengalaman pernah bertemu dengan malam ini. Setelah googling sana sini, cerita tentang malam ini tetap sama dengan banyak yang saya dengar selama ini yang nanti akan saya rangkum di akhir tulisan ini.

Malam itu seperti biasa saya melakukan itikaf dan memulainya setelah bangun tidur sekitar pukul 1 malam. Setelah bangun, wudlu dan ganti baju, kemudian berjalan ke Mesjid yang lokasinya ada di seberang rumah. Setelah melewati penjagaan yang sungguh ketat (kebetulan Mesjid ini di dalam kompleks asrama militer). Setelah sholat Tahajud dan dzikir saya pulang sekitar pukul 02.30 untuk melanjutkan Sahur di rumah, namun ketika melihat pemandangan langit ketika perjalanan pulang, Saya merasakan hal yang berbeda.. pohon palm yang menghiasi kompleks masjid diam tidak bergerak seperti tanpa ada angin, dan saya melihat bulan.. MashaAllah... Bulan sabit terang sungguh indahnya, saking terangnya seperti kita menatap gambar bulan sabit di Wallpaper desktop di layar komputer. Seketika saya kembali masuk ke dalam mesjid dan sholat tahajjud serta berdoa sebanyak-banyaknya agar selamat dunia dan akhirat. Paginya matahari bersinar terang, dan saya menceritakan pengalaman tersebut ke istri saya, namun.. istri saya menanyakan "Bukankah hari ini adalah tanggal genap?". Seketika saya ragu.. dan pada malam berikutnya melanjutkan i'tikaf sampai hari terakhir Ramadhan.

Saya masih penasaran apakah benar malam tadi itu Malam Lailatul Qadar? atau hanya perasaan saya saja? Dan menariknya, saya tidak bisa ingat kejadian itu pada malam ke berapa kecuali malam itu adalah malam genap. Bahkan ketika saya ingin menambahkan cerita pada tahun 2020 ini, catatan saya yang berisi tanggal genap yang terjadi di malam tsb hilang.. Subhanallah..

Tahun ini (1440 H) saya mencoba kembali hunting, sampai-sampai saya cuti 9 hari di luar cuti bersama yang ditetapkan pemerintah supaya saya bisa mendapatkan cuti 10 hari sebelum lebaran dan 10 hari setelah lebaran. I'tikaf dimulai lagi.. dan seperti tahun sebelumnya, masjid ini sepertinya memang ideal untuk melakukan i'tikaf dan mencari malam lailatul Qadar. Disamping sepi kalau malam hari, dari halaman masjid saya bisa memantau kondisi pohon, langit, dan suasana sekitar.

Malam 22, saya merasa malam itu bukan malam yang saya cari, tidak sesunyi yang diharapkan.. apalagi ada suara kucing yang berteriak-teriak mencari pasangan.

Malam 23,
Malam ini sepertinya malam yang sangat dinantikan... kali ini saya mengajak istri saya untuk ke Mesjid pukul 2 malam. Melihat suasana yang berbeda, kami menikmati sejenak suasana tersebut.. melanjutkan ibadah, setelah itu saya kembali mengajak istri untuk menikmati kembali suasana yang istimewa ini. Malam ini insyaAllah akan selalu kami ingat dan sekaligus mengkonfirmasi bahwa yang saya temui tahun sebelumnya benar-benar Malam Lailatul Qadar.

Malam tersebut memang sungguh spesial, pohon-pohon seakan diam tak bergerak, angin berhembus tidak kencang melainkan sangat pelan seolah terbelah menjadi kecil-kecil sehingga daun pun tidak bergerak, cuaca sangat cerah.. bintang terlihat bertaburan dan Bulan memancarkan cahaya yang sangat kuat seperti kita melihat gambar bulan di layar laptop.. yang berarti sinar biru yang dipancarkan cukup banyak, Suara hewan akan terasa jauh lebih hening.. suara jangkrik masih ada namun lebih senyap, suara katak hanya beberapa saja.. tidak ada suara kucing minta kawin, yang terdengar jelas hanya suara adek-adek patroli bangunin orang sahur....

Karena saking cerahnya, cerah di hari tersebut bertahan cukup lama sampai keesokan harinya. Suasana pagi terkonfirmasi sangat cerah, sinar matahari terbit memancarkan selain warna jingga, juga warna merah tipis.. sesuatu yang baru saya lihat seumur hidup saya, walaupun saya besar di daerah pantai. Seketika saya mengabadikan suasana tersebut di Instagram, karena saya bakal tidak bisa ingat lagi malam lailatul Qadar terjadi di tanggal berapa.

Suasana fajar setelah malam lailatul Qadr.

Berikut hal-hal yang dikonfirmasi setelah menemui langsung di malam spesial tersebut :
1. Terjadi di 10 Hari terakhir di Bulan Ramadhan.
2. Tidak selalu ganjil di kalender kita, bisa jadi terjadi di tanggal genap.
3. Suasana malam sangat indah dan damai.
4. Suasana pagi saat matahari terbit tidak kalah indah, ada warna merah tipis di cahaya matahari.
5. Mudah sekali lupa tanggal berapa terjadinya, namun akan ingat suasananya.
6. Pada malam tersebut, biasanya kita sangat lelap karena suasana yang sangat damai.
Update Tahun 2020:
7. Mendung bukan berarti bukan malam Lailatul Qadr, di tahun 2020 pukul 12 mendung, tiba-tiba pukul 12.30 sudah sangat cerah
8. Ada seorang teman yang pernah menemui pohon di depan rumahnya yang merunduk ketika malam Lailatul Qadr.

Saya menulis pengalaman ini semata-mata hanya supaya lebih banyak orang yang semangat itikaf dan bisa menemui malam spesial ini. Saya mengajak, yuk itikaf di malam 10 hari terakhir untuk mencari ridho Allah SWT. Semoga kita bisa dipertemukan lagi di malam spesial ini tahun depan :)

UPDATE TAHUN 1441 H
----------------------------------
Malam Lailatul Qadr kali ini cukup unik, pada malam 23 saya sudah pesimis malam tsb adalah malam yang ditunggu, karena disamping mendung tebal, gelap, dan suasana menunjukkan akan hujan. Menjelang pukul 12, terdengar suara kucing berteriak minta kawin, ayam berkokok, pohon-pohon terlihat bergoyang-goyang.. angin pun bertiup kencang. Namun, tiba-tiba pukul 12 lewat awan tebal di atas tiba-tiba dengan cepat berkurang cukup drastis...

Penantian hinggal pukul 1 pagi terbayar sudah.. Bulan sudah mulai terlihat cukup besar dengan sudur rendah, kemudian naik perlahan... Bulan masih terlihat sangat besar daripada biasanya. Pohon-pohon berdiam diri tanpa ada angin kencang.. hewan-hewan tampak menahan diri untuk mengeluarkan suaranya, hanya jangkrik dan beberapa kodok yang masih bersuara menyambut Malaikat turun ke Bumi. Menariknya jika dilihat langsung dari masjid seberang rumah, pemandangan malam itu seperti gambar di dalam dongeng. Berikut dokumentasinya..

Bulan sudah mulai terlihat muncul dari balik gunung... 
Penampakan Bulan di Malam Lailatul Qadar, perlu lensa yang lebih bagus nih buat moto Bulan... :3
Suasana pagi hari masih terlihat sama dengan tahun sebelumnya, hanya kali ini saya terlambat mengambil kamera sehingga sinar merahnya sudah menipis... 

Semoga kita bisa dipertemukan lagi di malam spesial ini tahun depan :)







Nah berikut rangkuman tentang malam Lailatul Qadar yang saya kumpulkan.
1. Tentang Malam Lailatul Qadar
    Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ, malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al-Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.

2. Al Quran
Al-Qadr.png
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
  1. Sesungguhnya Kami telah mengirim hal demikian di Malam Kemuliaan,
  2. dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?
  3. Malam Kemuliaan adalah lebih baik dibanding seribu bulan;
  4. ketika para malaikat beserta Al Ruh hadir atas izin Tuhan mereka untuk tugas masing-masing,
  5. kesejahteraan didalamnya sampai terbit fajar.

3. Hadist

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan dalam sabdanya:

تَحَرَّوْا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان

“Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. ” (Muttafaqun ‘alaihi dari Aisyah radliyallahu ‘anha)

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, dari Aisyah radliyallahu anha, ia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ{ هذا لفظ البخاري}

“Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” Demikian menurut lafadz Al-Bukhari.

Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radliyallahu anha:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.” (HR Muslim)

Dalam shahihain disebutkan, dari Aisyah radliyallahu 'anha:

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله

“Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau.”

Lebih khusus lagi, adalah malam-malam ganjil sebagaimana sabda beliau:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan)”. (HR. Al-Bukhari dari Aisyah radliyallahu ‘anha)

Dan lebih khusus lagi adalah malam-malam ganjil pada rentang tujuh hari terakhir dari bulan tersebut. Beberapa shahabat Nabi pernah bermimpi bahwa Lailatul Qadar tiba di tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah bersabda:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Aku juga bermimpi sama sebagaimana mimpi kalian bahwa Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir, barangsiapa yang berupaya untuk mencarinya, maka hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir. ” (muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Dalam riwayat Muslim dengan lafazh:

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir, jika salah seorang dari kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka janganlah sampai terlewatkan tujuh hari yang tersisa dari bulan Ramadhan.” (HR. Muslim dari Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma)

Yang lebih khusus lagi adalah malam 27 sebagaimana sabda Nabi tentang Lailatul Qadar:

لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ

“(Dia adalah) malam ke-27. ” (HR. Abu Dawud, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliyallahu ‘anhuma, dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Sahabat Ubay bin Ka’b radliyallahu ‘anhu menegaskan:

والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

"Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27." (HR. Muslim)

Dengan demikian dapat dibuat kesimpulan bahwa Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh akhir Ramadhan, terutama pada malam tanggal ganjil.

Dalam hadits Abu Dzar disebutkan:

أَنَّهُ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ، وَخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ، وَسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ، وَذَكَرَ أَنَّهُ دَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ خَاصَّةً


“Bahwasanya Rasulullah melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak salat keluarga dan istri-istrinya pada malam dua puluh tujuh (27).”


4. Ciri - Ciri Malam Lailatul Qadar

1. banyaknya para malaikat yang turun ke bumi hingga tidak terhitung jumlahnya.
2. menjadi malam yang dipenuhi kebaikan dan kemudahan. Cuaca didalamnya sangat bersahabat, tidak panas dan juga tidak dingin.

عن ابن عباس : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال في ليلة القدر : ليلة سمحة طلقة لا حارة و لا باردة تصبح شمسها صبيحها ضعيفة حمراء

“Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw bersabda tentang Lailatul Qadar:  “yaitu malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.“  (Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3693)

3. menjadi malam yang dipenuhi dengan taburan cahaya. Menurut beliau, hal ini bisa dibuktikan dengan pergi kesuatu tempat yang steril dan jauh dari sinar lampu.
4. hati merasa lebih tenang diantara malam-malam lainnya.
5. dada terasa plong dan lapang seakan-akan tidak ada beban sedikitpun melebihi malam-malam sebelumnya.
6. angin bertiup tenang. Tidak kencang dan juga tidak ribut.
7. orang yang terbiasa menghidupkan malam-malam ramadhan pada saat turunnya malam Lailatul Qadar tidak merasa jenuh dan gelisah. Ia lebih nyaman dan tenggelam dalam lautan kenikmatan beribadah.
8. matahari di pagi hari bersinar tidak begitu cerah dan penuh kemerah-merahan
9. bisa saja seseorang yang dikehendaki oleh Allah Swt melihat malam lailatul Qadar dalam tidurnya sebagaimana yang dialami oleh banyak sahabat Nabi Muhammad Saw.

Selanjutnya menurut beliau, ada tanda-tanda lain yang tidak didasarkan pada hadis. Akan tetapi hanya didasarkan pada pengalaman dan kesaksian para kekasih Allah Swt. dang dapat dilihat dalam lanjutan berikut:

10. air laut pada saat turunnya malam Lailatul Qadar menjadi tawar. Tidak asin sebagaimana asalnya.
11. bagi daerah yang dipenuhi anjing dan keledai, menjadi steril dari suara keduanya.
12. pepohonan terlihat tawadu’ dengan menundukkan ranting serta daunnya.